News

Kembang api pencabut nyawa dari Kosambi

Merdeka.com – 47 pekerja hangus terpanggang usai api melumat gudang kembang api Kompleks Pergudangan 99, Desa Cengklong, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (27/10) pagi. Para korban tewas setelah tak bisa menyelamatkan diri usai terjebak di dalam saat api tengah melalap gudang.

Korban tewas diidentifikasi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kondisi jenazah korban kebakaran lebih parah dibanding korban kapal motor Zahro Express di Muara Angke, awal Januari lalu.

“Ya ada beberapa yang memprihatinkan kondisinya, namun ada beberapa yang kita coba namun akan sangat sulit sekali kalau dibanding dengan KM Zahroh yang mau ke Pulau Tidung itu, ini lebih sulit. Kondisi semua hampir sama memprihatinkan,” kata Kepala RS. Bhayangkara Polri Said Sukanto Brigjen Didi Agus Mintadi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (26/10) malam.

47 kantung jenazah tengah diidentifikasi pihak forensik. Sementara dari kegiatan antemortemnya, telah menerima 11 keluarga serta 7 di antaranya sudah di ambil sampel DNA.

“Ini kami jelaskan juga bahwa proses identifikasi ini memerlukan waktu agak lebih lama daripada biasanya karena kondisi jenazah yang agak lebih memprihatinkan daripada yang sebelum sebelumnya. Untuk sidik jari kemudian gigi dan DNA, kegiatan sidik jarinya sulit sekali, gigi ada beberapa, tapi itu cukup berat sehingga kami mengandalkan pemeriksaan DNA,” jelas Didi.

Sementara 46 lainnya mengalami luka bakar. Korban luka sempat menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit seperti RSIA BUN. Sedangkan enam korban luka lainnya dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang.

Enam korban terpaksa menjalani perawatan intensif karena luka bakar cukup serius. Luka bakar dialami korban mulai dari 30 persen hingga 80 persen. Satu korban luka bakar lainnya dirujuk ke RSCM.

Hasil penyelidikan kepolisian diketahui jumlah pekerja di gudang kembang api itu sekira 103 orang. Pabrik itu dikontrak atas nama PT Panca Buana Cahaya Sukses. Pabrik ini bergerak di bidang pembuatan kembang api kawat dan sudah beroperasi sekira 2 bulan. Pemilik diketahui berinisil IL (40) yang beralamat di Kalideres, Jakarta Barat.

“Kami tanyakan jumlah pekerja setelah didata ada 103 orang yang bekerja,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta kepada wartawan di lokasi ledakan, Kosambi, Tangerang, Kamis (26/10).

Pihak kepolisian masih menyelidiki jumlah korban luka dan tewas. Sebab, dari data diketahui pekerja saat itu berjumlah 103, sedangkan korban tewas 47 dan luka 46 jika ditotal mencapai 93 orang.

Dari hasil keterangan saksi api pertama kali muncul sekira pukul 08.30 WIB. Hal itu diketahui ketika dua saksi tengah mengerjakan pemasangan atap bangunan Mes di dekat lokasi.

Keduanya mendengar ledakan di bagian atap pabrik petasan kembang api tersebut. Usai mendengar ledakan itu, saksi kemudian melihat percikan api yang menyebabkan pabrik tersebut terbakar.

Sejauh ini pemilik dan manajer perusahaan terlah diperiksa kepolisian. Pemeriksaan meliputi penyebab kebakaran termasuk izin perusahaan.

Kepolisian menepis kabar saat kejadian pintu di gudang terkunci mengakibatkan para karyawan yang berada di dalam tak bisa keluar. Berdasarkan kesaksian korban selamat, saat kejadian itu ia berhasil keluar dari pintu utama gudang dan tidak terkunci.

“Kebetulan tadi saya ketemu korban selamat dia bilang begitu kejadian dia keluar dari pintu utama, jadi enggak dikunci, tapi pas yang lain mau keluar mereka enggak bisa karena ada api. Jadi enggak benar karena dikunci, tidak benar,” kata Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Purwadi di RS Polri, Jakarta Timur, Kamis (26/10).

Menurutnya, pintu utama di gudang tersebut cukup besar. Dia menerangkan anggota Brimob yang dekat dari lokasi kejadian sempat menjebol tembok buat menyelamatkan karyawan yang ada di dalam gudang.

“Kebetulan 30 meter dari situ ada BKO Brimob buat mengamankan unjuk rasa. Untung saja ada anggota Brimob jadi bisa membantu,” katanya.

Sementara Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengatakan, perusahaan itu memiliki izin resmi sejak tahun 2016. Dia memastikan, dengan keluarnya izin dari Dinas terkait, maka semua struktur yang ada di pabrik itu telah sesuai standar prosedur yang ada.

“Perizinan sudah selesai dari 2016, menurut informasi pabrik itu baru 2 bulan terakhir mulai packing kembang api,” kata Zaki usai menjenguk korban luka di RSUD Kabupaten Tangerang, Kamis (26/10) malam.

Namun dia tak menutup celah adanya kesalahan, sehingga menimbulkan banyaknya korban jiwa. Ditegaskan dirinya, pada tahun 2015 pabrik kembang api itu mengajukan permohonan perizinan untuk manufacture.

“Mungkin pada pelaksanaannya masih, tapi nanti kita tunggu pemeriksaan dari kepolisian,” ucap dia.

Hal sama juga diutarakan oleh Kepala Desa, Belimbing, Maskota, yang memastikan gudang PT Panca Buana Cahaya Sukses itu memiliki izin usaha resmi dari kantor desa. “Izin semua lengkap, jadi bukan usaha ilegal, semua izinnya ada,” kata Maskota. [gil]

Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress