News

Gunung Agung erupsi, 43.036 jiwa telah mengungsi

Merdeka.com – Berdasarkan data Bidang Humas Satgas Tanggap Darurat hingga petang tadi, Minggu (24/9) tercatat sudah 43.036 jiwa jumlah pengungsi Gunung Agung Karangasem. Bagi warga yang memiliki kerabat dan menampung keluarganya dari pengungsian diharapkan petugas untuk tetap melaporkan ke kepala lingkungan atau ke posko terdekat.

Dari laporan petugas jumlah para pengungsi tersebut berada di daerah Tejakula ada 8.518 jiwa, di Klungkung ada 11.253 orang, di daerah Sidemen 1.953 jiwa, Bebandem 5.223 orang, diwilayah Rendang 3.768 jiwa, Manggis 3.400 jiwa, Karangasem 785 orang dan Bangli 4.690 serta data tambahan pribadi 3.446 orang secara keseluruhan ada 43.036 jiwa.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jumlah pengungsi terus berubah.

“Pada siang hari sebagian warga masih berani untuk kembali ke rumah hanya memberikan makan ternaknya. Pada sore atau malam, pengungsi kembali ke tempat pengungsian lagi,” terangnya.

Dia menjelaskan, bahwa masih banyak ternak yang belum dievakuasi ke tempat pengungsian ternak atau dikumpulkan di satu tempat aman karena katerbatasan data, sarana dan prasarana untuk evakuasi ternak.

“Prioritas utama evakuasi adalah masyarakat. Penanganan ternak akan ditangani oleh Dinas Peternakan Kabupaten dan bekerjasama dengan Dinas Peternakan Provinsi Bali,”ujarnya.

Menurutnya adanya keterkaitan ekonomi, sosial dan budaya antara masyarakat dan ternak menyebabkan penanganan pengungsi bukan hal yang mudah.

Sementara itu, di Kabupaten Gianyar, di RS Sanjiwani belasan ibu hamil dari pengungsi Karangasem hanya tinggal menunggu waktu lahiran. Ada juga yang mengalami plek, pendarahan hingga pecah ketuban.

Dari sekian pengungsi yang dalam keadaan hamil, Ni Nyoman Astriani asal Desa Duda, Selat Karangasem, melahirkan anak ketiganya pada Minggu (25/9) pagi. Putra laki-laki yang ditunggu-tunggunya lahir normal walau dalam kedukaan di pengungsian.

“Saya sempat was-was. Karena kelahirannya lebih awal dari perkiraan. Sejak kabar gunung mau meletus saya agak tegang terus,” ungkap Astriani.

Ia mengaku bersama suami serta keluarga besarnya sudah dua hari tinggal di pengungsian di Kota Gianyar. Dirinya mulai merasakan gejolak perutnya Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WITA dan langsung diantar petugas ke bidan terdekat, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Sanjiwani Gianyar.

“Saya sangat bersyukur, tiga anak kami sebelumnya semuanya perempuan. Terima kasih kepada petugas di pengungsian dan semuanya yang telah membantu kami selama pengungsian,” terangnya.

Namun, berbeda dengan kondisi ibu hamil enam bulan, Ida Ayu Muliani asal Desa Culik, Karangasem. Istri Ida Bagus Putu Warsa Pratama itu harus mendapat perawatan intensif setelah mengalami pecah ketuban. Ida Bagus pun sangat berharap, kondisi bayi dalam kandungan tetap sehat, demikian kesehatan istrinya. [eko]

Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by: Wordpress